Review Battlefield 1 : Perang Dunia I • KodeCheat
Menu

Review Battlefield 1 : Perang Dunia I

Review Battlefield 1 : Perang Dunia I – Jika anda mendengar Battlefield, maka yang terlintas dalam pikiran anda adalah salah satu game first shooter terbaik sampai saat ini, tetapai game tembak-tembakan dengan latar perang dunia menjadi yang paling dinanti-nanti oleh sebagian besar gamer. Setidaknya itu lah yang tercermin dari komentar pada trailer perdana Battlefield 1.

Bukan tanpa alasan, sebagian besar gamer ternyata merasa bosan dengan perang bertemakan futuristik yang disajikan dalam beberapa game first person shooter belakangan ini. Karenanya, kemunculan Battlefield 1 seolah membawa angin segar bagi pencinta game.

Dalam proses pengembangannya, publisher game Electronic Arts EA menggandeng developer DICE, yang memang sudah sangat dipercaya untuk menggarap game Battlefield ini.

Battlefield 1 akan membawa Anda terjun langsung pada konflik bersejarah yang paling jarang diangkat ke dalam bentuk game, yaitu Perang Dunia I. Berbeda dengan latar belakang Perang Dunia II, yang sering diangkat jadi game, Perang Dunia I sangat minim menjadi tema sebuah game, apalagi dengan cost untuk pengembangannya yang sangat besar.

Lalu Seperti apa pendapat dari Kodecheat mengenai game tersebut ? berikut ulasannya :

Pelajaran Sejarah yang Nggak Bikin Bosan

Mungkin sebagian besar dari para gamer setuju belajar itu membosankan. Namun, bagaimana kalau belajar sambil bermain game? Itu lain lagi ceritanya. Battlefield 1 memberikan pelajaran sejarah tanpa membuat kita bosan dengan latar belakang sejarah Perang Dunia I.

Dalam beberapa segmen, Batlefield 1 menceritakan peristiwa bersejarah yang memang benar terjadi. DICE pun mengambil beberapa karakter nyata dari perang maut antar negara itu. Hanya saja, ada beberapa karakter fiksi yang dibuat untuk kepentingan di dalam game itu sendiri.
Pada Mode single player campaign yang terbagi menjadi enam ‘War Stories’ ini berdurasi tidak terlalu panjang. Setiap cerita, bisa dimainkan hanya dalam waktu kurang dari satu jam bila dimainkan secara konstan. Meski terbilang singkat, namun alur cerita yang disajikan dari Battlefield 1 sendiri bisa membuat mata kita terbuka atas kekejaman perang yang memang terjadi di masa lalu. Seperti epilog campaign dimana kita tiba-tiba menempatkan pemain di tengah-tengah medan perang dan dikepung musuh tanpa ada jalan keluar.

Ya, gamer akan langsung memerankan salah satu karakter tentara dari Harlem Hellfighter, salah satu resimen Amerika Serikat (AS) yang beranggotakan prajurit kulit hitam. Seberapa keras pemain berusaha bertahan hidup, pada akhirnya pasti akan gugur juga. Setelah itu berpindah ke karakter tentara lain, dan pada akhirnya tetap sama, yakni terkepung, panik, berusaha bertahan hidup, tapi akhirnya gugur.
Mode Campaign ‘War Stories’ benar-benar menyuguhkan cerita sepaket dengan kekejaman, perjuangan, dan pengalaman langsung di medan perang. Pesan moral yang terselip dalam game ini adalah perang benar-benar mengubah dunia beserta orang-orang yang terlibat di dalamnya. Pada beberapa misi lainnya, pemain tidak hanya diberikan tokoh yang berbeda, tapi juga lokasi dan gameplay baru. Pemain bisa mengontrol mulai dari sopir tank Inggris, pilot Amerika, sampai pelaut Australia.

Tidak perlu memainkan cerita perang ini secara berurutan karena semuanya tidak ada kaitannya sama sekali satu sama lain. Sebaiknya jangan melewatkan setiap cut scene yang disuguhkan supaya ‘cerita perangnya’ lebih terasa. Walau single player campaign terasa sangat pendek, pemaparan ceritanya sangat menyentuh hati. Sebab hampir semua dari para karakternya mengalami war wound (luka perang) yang membekas, baik itu secara fisik maupun mental.

Perang Multiplayer Besar-besaran

Fokus DICE dalam merilis Battlefield 1 adalah multiplayer. Dari awal demo diluncurkan, Battlefield 1 memang sengaja dikembangkan untuk perang antar pemain, yang tentu saja secara online. Menariknya pada game ini adegan pertempuran bersejarah di multiplayer ini dilakukan secara besar – besaran. Bisa dibayangkan apa jadinya jika 32 pemain lawan 32 pemain di peta yang sama, sangat luar biasa bukan.
Banyak mode permainan yang disuguhkan dalam multiplayer Battlefield 1. Tapi, di antara beberapa mode permainan multiplayer itu, hanya Conquest lah yang menjadi mode permainan terfavorit. Dalam mode permainan ini para pemain mencoba menguasai satu wilayah dan mempertahankannya supaya tidak direbut oleh pemain lawan.

Mode permainan di Battlefield 1 tidak jauh berbeda dengan sekuel pada Battlefield sebelumnya. Yang menjadi perbedaan tentu senjata yang ditawarkan. Senjata dalam Battlefield 1 disesuai pada jamannya, akurasi masing-masing senjata juga berbeda tergantung jenisnya. Walau menggunakan senjata kuno, tetap saja ada gamer yang menyukai senjata jenis ini ketimbang senjata laser bergaya modern.

Pemain bisa memilih menggunakan senapan mesin kuno, rifle khas sniper di masa-masa awal peperangan, sampai peluncur roket yang bentuknya seperti masih dalam tahap purwarupa. Yang namanya senjata jaman dahulu pasti selalu saja ada kekurangannya. Untuk itu, DICE pun menghadirkan kekurangan itu sebagai sebuah tantangan sehingga pemain bisa merasakannya. Pemain tak lagi bisa mengandalkan thermal scanning, holographic sights, atau bahkan drone untuk membantu di medan perang.

Tidak hanya senjata, kendaraan perang yang juga menjadi salah satu fitur utama disesuaikan dengan zamannya, seperti tank Mark I buatan Inggris sampai sepeda motor buatan Jerman. Semua itu dibalut dalam visual yang luar biasa mantap. Ya benar, salah satu keunggulan dari Battlefield 1 adalah visualisasinya yang indah. Konsol next generation benar-benar menjalankan tugasnya dengan baik.
Lebih serunya lagi, semua hal bisa yang ada di game ini bisa hancur. Mulai dari kendaraan tempur sampai gedung yang bisa rata dengan tanah setelah kita menyelesaikan satu mode permainan. Ada musuh di belakang rumah? Tembak saja pakai meriam dari tank baja. Ada musuh bersembunyi di belakang tank meja? Anda tentu bisa menghabisinya dengan menggunakan dinamit atau peluncur roket.

Tidak ada tempat untuk sembunyi bagi pengecut. Semua tempat bisa dihancurkan memakai senjata khusus. Pemain pun bisa bebas bergerak ke mana saja di peta, bahkan bisa sampai tersesat. Sayangnya, ini menjadi salah satu kelemahan Battlefiled 1. Area map yang sangat besar membuat pemain sulit berkoordinasi dengan rekan satu timnya.

Misalnya, dalam permainan 32 vs 32, para pemain terbagi ke tim-tim kecil yang beranggotakan hingga enam pemain. Kesulitannya adalah para tim-tim ini hanya bisa berkomunikasi dengan sesama timnya. Sementara tim lainnya, tidak bisa berkomunikasi.

Kelemahan berikutnya adalah sistem meningkatkan level pemain juga yang sangat lambat. Ada beberapa class yang syaratnya lumayan menyulitkan ketika ingin naik level. Misalnya ada yang syaratnya menghancurkan beberapa tank sebelum bisa naik kelas.

Tapi ada juga class yang sangat enteng untuk menaikkan levelnya, yakni class medic. Class medic memiliki persyaratan naik level yang tidak terlalu sulit, yaitu hanya dengan mendatangi mayat tentara yang gugur beberapa kali, Anda sudah bisa naik kelas.

Baca juga artikel tetang  Review Game Firewatch Indonesia

No comments

Leave a Reply

Toko Online Hijab

Toko online hijab

Paling Banyak Dilihat